Saturday, 15 December 2012

Apakah Keadilan Hanya Untuk Orang Kaya?

Miris, lihat berita di salah satu stasiun televisi swasta yang memberitakan perjuangan orang tua yang ingin mendapatkan keadilan dari pemerintah.

Anaknya yang terjerat kasus narkoba, mendapat hukuman 5 tahun penjara. Mereka (Orangtua korban) tidak menerima putusan tersebut. Mereka beranggapan bahwa anaknya tidak bersalah, karena anaknya yang terkena kasus tersebut hanya disuruh membeli narkoba oleh oknum polisi. Jika memang hukum di Indonesia ini ada, maka harus diusut dengan oknum polisi tersebut, pungkasnya.
Selain itu, dalam proses penyidikan, oknum polisi yang melakukan penyidikan terhadap anaknya diduga melakukan tindak kekerasan saat proses penyidikan. Si Bapak itupun menunjukan foto-foto anaknya yang mengalami luka-luka saat proses penyidikan tersebut. Itu juga yang tak bisa diterima oleh pihak keluarga.

Mereka mengajukan banding, karena tidak puas dengan putusan tersebut. Namun, karena keterbatasan biaya, mereka tidak menggunakan jasa pengacara. Mereka mengajukan banding sendiri. Sadar tidak mengerti hukum, mereka meminta saran dan bantuan kepada yang mengerti hukum.

Setelah kesana-kemari meminta masukan dan bantuan, dan keluar masuk polda untuk meminta kepastian, akhirnya si Bapak disuruh ke Jakarta.
Karena demi anak yang dicintainya dan untuk keadilan, mereka sampai menjual rumah untuk pergi ke Jakarta. Bahkan motor dan sepeda ontel satu-satunya dijual juga demi biaya pulang pergi ke Jakarta lagi, dan mirisnya lagi itu harta terakhir mereka. Namun apa yang mereka dapat dari pengorbanan-pengorbanan yang telah mereka lakukan? Nihil!

Terakhir, sampai berita itu disiarkan. Si Bapak sempat ke Mahkamah Agung untuk meminta keputusan, tapi belum sempat masuk, Si Bapak ditahan, tidak diperbolehkan masuk oleh pihak keamanan disana. Alasannya karena si Bapak hanya mengenakan sandal dan baju kaos ketika kesana. Sedangkan untuk masuk ke Mahkamah Agung harus berpakaian rapih dan mengenakan sepatu, kata pihak keamanan di Mahkamah Agung tersebut.  Ya maklum, karena harta mereka sudah habis dijual untuk membiayai mereka pergi ke Jakarta, jadi boro-boro beli sepatu.
Si Bapak bercerita: Beliau tidak pernah memakai sepatu dari awal menikah sampai saat ini, pernah pakai sepatu, itupun ketika masih remaja. Pungkasnya.

Yang jadi pertanyaan, Apakah keadilan hanya untuk orang kaya?

“Kalau saya punya uang, saya akan membeli sepatu saat itu juga.” tegasnya kepada pembawa acara berita tersebut dengan raut wajah sedih.
Mereka berharap keadilan benar-benar ditegakkan. Siapapun yang salah, bahkan jikalau anaknya benar-benar bersalah, maka harus dihukum seadil-seadilnya. Dengan tidak menghiraukan lagi atas apa yang dikorbankannya untuk mendapatkan keadilan, Beliau merelakan dan mengikhlaskannya jika memang kenyataannya seperti itu.

Lieur sama hukum di negeri ini.