Saturday, 26 January 2013

Balada Ingin Nikah

Sore hari ditengah suara gemericik air yang turun dari langit. Seorang pemuda yang berumur hampir seperempat abad tengah mendongakkan kepalanya ke langit-langit. Dia bergumam "Sekarang umur saya udah hampir seperempat abad, tapi calon belum punya, pekerjaan apalagi".

Dijaman sekarang memang mencari pekerjaan bisa dibilang susah susah gampang. Namun, kalau diperhatikan kebanyakan susahnya dibanding gampangnya. Ga percaya? Coba perhatikan kalimat yang digaris miring pada kalimat sebelumnya, disitu ditulis "susah susah gampang". Perhatikan kata susah dan kata gampang, kemudian hitung ada berapa kata "susah" dan ada berapa kata "gampang"! Pastinya jika kamu pernah belajar calistung kamu bisa menjawab, dan tentu jawabannya adalah kata "susah" ada dua dan kata "gampang" ada satu. Jadi, jelas dong yah cari kerja itu banyak susahnya ketimbang gampangnya. hahahaha.... #ngaco

Masalah satu sudah clear!!

Kita lanjut ke masalah yang lain. Kenapa mencari pekerjaan bisa dibilang susah susah gampang? Sebenarnya lahan pekerjaan itu banyak, cuma beberapa atau kebanyakan orang terlalu pilih-pilih pekerjaan, alasannya beragam: sistemnya gini lah, gitulah, cape lah, apalah dan sebagainya. Maka, oleh karena itu, tidak sedikit yang punya title susah mendapatkan pekerjaan, apalagi yang tidak punya title.
Mungkin untuk mendapatkan pekerjaan di jaman yang serba MAHAL ini perlu keberuntungan dan sedikit keberanian untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Bagai menangkap belut di air keruh.

Sesudah hampir beberapa menit pemuda tersebut bengong, kemudian muncul sesosok dengan perawakan tinggi, besar dari balik pintu.
Kemudian dari mulut beliau keluar ucapan "Naon jang hayang kawin?" Si pemuda tadi lantas tercengang melihat sosok tersebut, matanya melotot seperti melihat kucing lagi bugil, mulutnya melongo kayak orang bego. "Nya mangga we jang ari rek kawin mah, da ku Bapak ge moal burung teu dikawinkeun." lanjut sesosok tadi sambil tersenyum, tak lain beliau adalah ayahanda tercintanya.
Si pemuda tadi yang melotot, membego dan kulit tubuhnya hampir mengelupas, mendengar perkataan Bapaknya itu, seketika tubuhnya langsung segar bugar, keceriaan nampak dari matanya. Matanya begitu berbinar laksana matahari di pagi hari yang memancarkan cahaya ke sela-sela dedaunan diiringi hembusan udara pagi yang menyegarkan.
Tapi...
Begitu kata itu terucap dari mulut sang Ayahanda tercinta, si pemuda nafasnya mulai tidak teratur, darah di nadinya hilir mudik dengan kecepatan 200 km/jam.(...)

Bersambung...